KLIKQQ - Di tengah gempuran tren kopi ala cafe yang bergaya modern dan bernuansa premium, Kedung Coffee yang berada di Singocandi tepatnya di belakang Polsek Kota, Kudus tetep keukeh berupaya mengembangkan bisnis kopi ala kampung. Meski begitu, tempat ini tetap memberikan kenyamanan dengan nuasa kedai kopi yang berada di kebun kopi.
Khoirul Manan, mahasiswa semester lima jurusan manajemen Universitas Muria Kudus itulah yang menggagas keberadaan Kedung Coffe. Berawal dari perkerjaannya sebagai sales kopi saat masih semester dua, ia kemudian berminat untuk membuka kedai kopi sendiri. Ketika itu, ia menjadi sales untuk mengantar kopi ke sejumlah kedai di wilayah Kudus hingga Yogyakarta.
“Melihat kondisi yang memprihatinkan, jarang sekali tempat nongkrong di Kudus yang menawarkan kopi daerah sendiri, yaitu kopi Muria, kopi yang diproduksi di tempat sendiri,” ujar Manan saat ditemui di warung kopi miliknya, Senin (9/1) malam.
Pria kelahiran 1995 ini kemudian memilih usahanya tersebut dengan meminta izin menggarap satu kotak dari lima kotak kebun kopi milik bapaknya di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus. Desa tersebut termasuk desa penghasil kopi di Pegunungan Muria.
Menurut Manan, dia sengaja memilih jenis penggiling kopi modern untuk hasil kopi bubuk yang lebih padat, halus dan konsisten. “Sekarang ini kalau tak memilih alat yang modern kita akan ketinggalan pasar, karena di Kudus ini hampir ada 40 penjual kopi modern,” katanya.
Manan menambahkan dengan alat yang modern akan menghasilkan kualitas bubuk yang baik. Selain itu juga menghasilkan kopi dengan rasa yang lebih kuat dan akan menggoda mereka para penggemar kopi di Kudus.
Bukan hal yang mudah, diawal usaha ia mengaku sulit sekali menarik minat pasar. Tetapi Manan selalu berusaha menawarkan hal yang beda dan konsisten menjalani usahanya tersebut. Salah satu usahanya untuk menawarkan hal yang berbeda adalan menjajal beberapa racikan kopi lain dengan bahan baku utama kopi yang dihasilkan di daerahnya sendiri.
Andalan kopi di kedai kopi milik Manan adalah kopi Muria dan juga kopi Robusta, kopi Arabika, Exelsa dan kopi Liberika. Semua jenis kopi itu tidak didatangkan dari tempat lain, melainkan semua tumbuh dari kebun kopi di Muria. “Kopi tersebut tumbuh di kebun kopi milik pribadi, kecuali exelsa yang harus beli di kebun milik tetangga,” jelasnya.
Menekuni usaha kopi bagi Manan, sudah menjadi panggilan hidup dan hal tersebut membuat suasana usaha kedai kopinya terasa lebih hangat dan terkesan lebih menyentuh. “Meski harus merogoh kocek lebih dalam untuk usaha kedai kopi ini tak masalah, ini sudah menjadi jiwa, sambil kuliah sambil usaha,” jelasnya.
Tetapi usahanya tidak percuma, terbukti dalam beberapa bulan saja usaha kedai kopi milik Manan sudah bisa mencetak omzet sekitar Rp 500 ribu perhari dan terus menunjukan progress baik. “Itu sudah menjadi target saya perhari, tapi kadang ya melebihinya,” tambahnya.
Setiap malam minggu pengunjung warung kopi milik Manan akan ada pertunjukan seperti musik akustik, Manan up comedy, puisi dan beberapa hiburan ala anak muda di Kudus. Usaha kedai kopi milik Manan ini bisa menjadi contoh usaha anak muda di tahun ini. Penasaran ingin mencobanya? Yuk datang dan menikmati kopi di tengah kebun kopi.




